selamat berpetualang bersama saya!

silahkan komen kalo udah mampir...

Senin, 28 Mei 2012

Cinta...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Kuambil puisi Sapardi Djoko Damono sambil menatap matamu yang sendu.
Kau tersenyum tipis. 
Aku mencintaimu. Ujarku sambil tersenyum lebar. Kau? Kau ingin mencintaiku seperti apa? tanyaku sambil menatap matamu dalam.
Kau menghindari tatapan mataku. 
Kucari terus matamu, kutarik sedikit tanganmu.

Aku..... ujarmu pelan lalu terdiam. Kau saja. Kau ingin kucintai seperti apa? Tanyamu pelan sedikit bersemangat.
Kugandeng tanganmu. Aku tertawa kecil. Ah, kau ini! Kenapa gandengan tanganku tidak dibalas? tanyaku.
Kau melirikku. 
Aku menoleh, memandang langsung ke wajahmu. Aku tertawa kecil. Akuuuuuu..... Aku tertawa kecil lagi. Ku gandeng erat tanganmu.
Kau melirik ke kiri ke kanan, mencari-cari. 
Semakin erat kugandeng tanganmu. Aku tahu, kau malu membalas pelukan tanganku karena ini di taman umum.

Akuu.. ujarku pelan. Aku ingin dicintai dengan aman. Aku ingin diantara kita hanya ada cinta. Ada cinta yang menyelimuti kita. Kalau kau jauh, tetap ada selubung cinta yang membuat kita terhubung sehingga aku tidak takut kau akan meninggalkan aku. Aku ingin hanya ada kita berdua di dalam selubung cinta kita. Aku ingin dicintai dengan aman, tidak ingin ada orang lain yang keluar masuk, hanya boleh kita berdua. Aku ingin dicintai dengan aman, sehingga apapun yang aku lakukan, kau selalu mendukungku, aku akan terus terbang, karen aku yakin kau selalu ada untukku. Aku dan kamu. Kita saling jaga ya, supaya setiap kita takut, kita bisa saling berpegangan, atau jika kita jauh, kita berbisik saja pada selubung cinta kita, dan kita aka selalu terhubung. Akuuu... aku ingin kau mencintaiku dengan aman. Aku melemparkan pandangan mataku pada langit biru berhias permen awan putih. Kupalingkan wajahku, mentap rahang wajahmu yang sedikit dia atas kepalaku.
Kita terdiam. Sambil melangkah kecil. Di taman umum, di terik siang hari.

Bagaimana jika tidak ada cinta yang aman seperti itu? Tanyamu.
Ada. Cinta ada dimana-mana, sayang. Cinta itu yang membuat kita bertemu. Lalu kita akan sama-sama saling jaga. Bukan begitu, sayang? Tanyaku.
Kita terdiam lagi. Aku tertawa kecil. Mungkin pertanyaan sebenarnyaaa... Bagaimana kalau kamu tidak bisa memberi cinta yang aman? Iyakan? Tanyaku.

Angin berhembus perlahan. Menyatukan hembusan napas kita yang semakin berat.
Kau membalas gandengan tangaku. Erat. Lebih erat. 

Pandanganmu lurus ke depan. Aku tak dapat menduga-duga pikiranmu. Aku mencintaimu.. ujarmu pelan dan cepat sambil tetap menatap lurus.
Aku menatapmu yang masih menatap lurus ke depan. Rahangmu menjadi kaku, bibirmu menjadi kelu. Ada kata-kata yang terkunci tak mampu kau ucapkan. Aku tersenyum tipis, kecut, menatapi kaki kita yang melangkah bersama. Kuhembuskan napas berat, melepaskan kekesalan. 

Ada tembok besar diantara kita. Aku tahu kau merasakannya. Aku tidak tahu, tak pernah tahu siapa yang membangun tembok itu. Bukan aku, bukan kamu juga. Tapi kita juga tak pernah berusaha merubuhkannya. Kita kadang merasa nyaman kadang merasa jengah. Ah, tembok itu punya siapa?

Kutarik napas dalam. Lebih dalam dari yang sebelumnya. Perlahan kurenggangkan gandengan tanganku. Kukumpulkan sisa keceriaan di antara kita, kuserap energi positif yang tersisa. Ayo kita makan yuukk... ajakku sambil menarik tanganmu lembut.
Kau memandangku lembut, kali ini dengan binar yang lebih cerah. Ayooo! Makan eskrim juga yuk! Mau? tanyamu sambil terseyum lebar.
Aku mengangguk kecil, melebarkan senyumku, menampilkan jejeran gigiku. Sedikit berlari di depanmu, kutepis sisa-sisa mendung di hatiku. Seperti biasa.


Kamis, 17 Mei 2012

Kontemplasi

Ada ga sih penyakit kejiwaan atau sejenisnya yg membuat orang mengulangi hal yang sama terus-menerus? Misalnya setelah dia menonton film bagus, menonton konser idolanya, mendapat hadiah, dilamar pria idaman lalu dia terus menerus menceritakan hal itu ke semua orang? Aku pikir aku hampir seperti itu setelah pulang dari Lombok.

Tapi postingan kali ini lebih ke pengalaman pribadi aja sih. Jadi gini, sejak aku kuliah, mungkin sekitar semester 4 atau 5, entah mengapa aku tiba-tiba ingin sekali ke Lombok. Rasa inginku itu membuncah sampai ke ubun-ubun. Lombok, bukan Bali yang tersohor atau Thailand yang murah dan berkelas internasional, tap Lombok. Aku sendiri tidak tahu kenapa harus Lombok. Teman-teman atau keluargaku belum ada yang pernah ke sana, jadi aku hanya ingin ke sana. Aku dengan tentang pantainya yang jernih, suasananya yg tenang, mutiaranya dan banyak hal lain yang aku dengar dan aku baca dari media-media.

Lalu entah kenapa, aku seperti membuat perjanjian dengan diriku, jika aku mampu, maka tujuan pertamaku setelah bekerja adalah Lombok. Akhirnya, keinginan itu terwujud dan memang harus terwujud bahkan jika kemarin aku tidak dapat  partner berlibur, aku akan pergi sendiri. Gila? No! Kamu tidak tahu bagaimana deg-degannya aku saat tiba di lokasi baru, tanpa kenal siapa-siapa dan tak tahu apapun tentang tempat itu. Tapi bersamaan dengan rasa deg-degan, muncul pula perasaan tenang, tenang karena akhirnya aku menjejakkan kaki di tempat yg membuatku sangat penasara. Aku terharu, hampir menitikkan air mata saat pesawat landing di Praya. Dan aku tertawa-tawa saat kami tiba di Pantai Kuta, Lombok, pantai terakhir yg kami kunjungi disana. Aku menggumam terus-menerus di dalam hati: Liat aku! Aku bisa! Aku, si bocah yg keras kepala!

Saat itu aku merasa seperti bertanggung jawap penuh pada keselamatan Een yang aku ajak masuk dan terlibat pada ide "gila" ini. Banyak orang tercengang, sebagian kagum, saat kami mengakui kami hanya berdua ke Lombok. Beberapa malah memuji keberanian kami. 

Dalam perjalanan pulang dari Lombok menuju Jogja, aku banyak berefleksi. Aku lelah namun seperti mendapat sesuatu yang baru. Seperti tersentak, ternyata aku punya keberanian, aku punya kemauan, aku punya kemampuan untuk mewujudkan mimpi konyol itu. Meski agak lama, namun akhirnya aku mampu mencapai keinginanku. Mungkin bagi Een, liburan kemarin adalah liburan biasa yg menantang keberanian tapi bagiku liburan kemarin adalah suatu jawaban. Aku mampu menjawab ketakutanku, kelemahanku, kebingunganku, kegundahanku. Ternyata aku bisa. :)))

Dulu, menikmati birunya pantai di Lombok hanya mimpi, khayalan. Dulu sunset di Trawangan tak pernah terbersit di imajinasiku. Sekarang, aku bahkan bisa mengulang-ulang rekaman pemandangan yang aku gapai sendiri. Aku gapai dengan tekad dan keinginan kuat. Aku bisa saja menghabiskan cuti di daerah sekitar rumah, menyimpan uang agar punya tabungan lebih banyak kelak bisa beli rumah. Tapi bukan itu tujuanku. Bukan. Tujuanku adalah ingin menikmati hasil kerja kerasku dengan membahagiakan diriku. Ya, semua orang juga melakukan hal yang sama, yang berbeda adalah letak kebahagiaan itu. Beberapa bahagia saat tabungannya memiliki digit yang banyak, ada yang bahagia jika sudah punya rumah mewah, ada yang bahagia jika sudah keliling dunia. Aku? Aku bahagia jika aku mampu menjawab rasa pensaran, aku bahagia jika aku mampu menjawab tantangan.

Untuk itu, aku selalu ingin menciptakan pertanyaan dan tantangan. Aku ingin penasaran itu aku lempar jauh ke depan, tantangan aku taruh di depan mataku, agar setiap kali aku terbangun, aku bangun dengan tantangan yang menghalangi pandanganku. Aku ingin terus penasaran, ingin terus tertantang, agar aku ingin terus menjawab. Mengerikan? Ah, tidak! Tidak seekstrim itu, kadang aku bisa juga berkompromi dengan tantangan kok. :))

Lalu jika ada yang bertanya: sudah bahagia? Aku akan tertawa terbahak-bahak dan lalu menjawab: Kenapa harus tidak bahagia? Bukankah hidup ini adalah tantangan dan pertanyaan yg selalu membuat penasaran? Dan lalu jawabannya juga ada di sini kok! Yes, I'm more than happy. 

Dalam penerbangan kembali ke Medan, aku duduk bersebelahan dengan seorang ibu cantik yg terbang bersama suaminya. Dia bertanya tentang tujuanku dan kenapa aku sendiri. Aku dengan ringan menjelaskan tujuanku dan liburan singkatku. Dia tersenyum dan cuma berkata: Wah, kamu suka traveling ya?! Aku tersenyum bingung. 

Aku tidak tahu apakah aku suka traveling. Yang aku tahu, aku senang bepergian karena rasa penasaran. Aku banyak memandangi awan di luar jendela. Aku kembali berjanji, tahun depan aku akan bepergian ke tempat baru lagi. Lalu begitu banyak kejadian silih berganti di ruang imaji kepalaku. Obrolan di Lombok, obrolan di Jogja, pertemuan di Semarang, seperti film pendek, semua pembicaarn penting sambung-menyambung di kepalaku. Aku bergumam pada awan: Sepertinya aku bisa melihat mimpi besarku. Aku tahu aku punya kemampuan untuk mewujudkannya. Yes, I can. :))

Rabu, 16 Mei 2012

Dokumentasi Lombok

Postingan sebelumnya tentang perjalanan kami yang luar biasa. Postingan kali ini, aku hanya ingin menampilkan dokumentasi yg aku ambil selama ada di Lombok dan sekitarnya.
Menuju Jakarta *bukan promosi*

Ladang Awan
Ingin mencicip awan

Touchdown Lombok 
Senja di Senggigi
Pelabuhab Bangsal
Matahari mengecup laut
Es degan di siang hari
I love blueeeee...
Gradasi..
Speechless
Mereka (terumbu karang) sedekat ini dengan kita
I have no idea
Perlahan dia tenggelam
We love sunset!
Aku diintipnya dari balik awan
Wish u were here....with me
Terbangun dari tidur 12 jam-nya
Tuhan melukisnya untukku
Sunrise!
Morning, boat! Are u ready?
My favourite one! :))
Lombok juga punya hijau..
Menarik napas dalam
Tipis dan lembut
Menjejak
Pasirnya membuatku tertawa

Terimakasih Tuhan.. I love God, I love Indonesia! :))

Picture taken by Ostinasia Tindaon with Fujifilm Fine Fix S8000D without editting.

Selasa, 15 Mei 2012

Lombok Trip: Kisah Backpacker Nanggung

Ada yang bilan aku (sok) tajir, banyak duit waktu aku mencetuskan ide untuk berlibur ke Lombok. Waktu itu memang terbersit pikiran untuk pergi sendiri saja. Sebenarnya keinginan mengunjungi Lombok sudah ada sejak jauh-jauh hari, mungkin sekitar 2 tahun lalu, waktu masih kuliah. Setelah punya pekerjaan tetap dan layak, sepertinya pantaslah aku menghadiahi diri sendiri, sebuah liburan dan sebuah kejutan ringan. Yakan??

Akhirnya berbekal keisengan, kegilaan, penasaran, aku memantapkan hati berencana ke Lombok di cuti pertamaku. Ajak sana-sini, teman-teman pada ga bisa ikut, untunglah akhirnya nemu partner, Een, salah satu teman baikku pas masih kuliah dulu. Een percaya saja dengan rencana-rencana yg kami susun. Antara percaya dan tidak, informasi hanya kudapat dari browsing internet dan email sepupuku, Osin. Een sendiri cuma tanya teman sana-sini.

Cukup nekat juga ide kami ini karena menjelang cuti, justru pekerjaan menumpuk. Aku dikejar target, dikejar deadline, hampir ga dibolehin cuti padahal tiket sudah dibeli. Een sendiri akhirnya cuma dapat cuti satu hari sementara aku sudah terlanjur beli tiket pulang hari Selasa.

Akhirnya tanggal 5 Mei, kami berangkat. Aku dari Medan, Een dari Jakarta. Kami memilih penerbangan yang sama dari Jakarta. Naik pesawat Lion Air, kami bertemu di Havana Lounge, sambil mengisi perut, makan siang.

Bertemu Een setelah sekitar 6 bulan berpisah

Perjalanan ke Lombok ditempuh kurang lebih 2 jam dari Jakarta. Ingat, waktu di Lombok sejam lebih cepat dari Jakarta. Kami tiba disana sekitar jam 4 sore dan hari cerah! Semacam pertanda baik karena ketika masih di pesawat, dari kejauhan terlihat awan mendung di atas Lombok. Kami sempat takut dan sedih, takut kehilangan waktu singkat untuk menikmati Lombok. Ohya, bandara Lombok namanya Praya, masih baru, sekitar tahun 2011 diresmikan.
Praya International Airport

Akhirnya kami sampai tepat waktu. Seperti yang telah aku ceritakan di atas, kami tidak punya persiapan sama sekali ke Lombok. Belum pesan hotel, belum cari travel atau sebagainya, hanya mengumpulkan informasi sana-sini saja. Dari bandara, kami naik bus Damri tujuan Senggigi. Sebenarnya bus Damri berhenti di Mataram, tapi mungkin karena sedang beruntung, kami bisa diantar sampai Senggigi dengan ongkos masing-masing Rp 25.000,-. Perjalanan menuju Senggigi dengan Damri sekitar 1,5 jam. Jalanan lancar dan masih baru, kiri-kanan kita disuguhi pemandangan hijau, banyak sawah-sawah luas yang terbentang. Kami memilih duduk dekat supir, dan kebetulan salah satu penumpang sangat ramah bercerita tentang Lombok dan Senggigi. Membagi informasi tentang penginapan dari yang murah sampai mahal sampai mahal banget. :))

Kami adalah penumpang terakhir. Penumpang lain sudah turun semua di Mataram. Ohya, menurut info dari supir bus, Damri beroperasi sampai kedatangan pesawat terkahir, jadi kalau flight tiba terakhir jam 11, ya masih ada Damri jam segitu. Memasuki wilayah Senggigi, kami dihadirkan dengan pemandangan sore yang manis, Sunset! Bapak supir menawarkan kami untuk berfoto-foto dulu di salah satu belokan sebelum kami sampai di Senggigi. Lalu perjalanan dilanjut ke penginapan yang direkomendasikan si Bapak supir. Penginapannya bernama: Baleku. Satu malah seharga Rp 200 ribu. Ternyata letaknya tidak persis di Senggigi kota namun sudah cukup dekat. Kami langsung masuk kamar menaruh tas dan cuci muka, ingin lanjut ke pantai Senggigi yang letaknya persis di sebrang Penginapan. Eh, taunya pocket kamera Een hilang, padahl foto-foto di jalan tadi pakai kamera itu. Kemungkinan terjatuh di jalan, atau di entahlah. Een berusaha ikhlas.

Sunset di Senggigi

Berusaha move on dari kehilangan kamera, kami akhirnya mandi dan berberes setelah perjalanan yang sangat melelahkan. Aku mengusulkan untuk makan di salah satu cafe terkenal di Senggigi, Happy Cafe, info nya aku dapat dari google. Jam 8 kami keluar dari penginapan, pesan taksi, dan ternyata malah dimarahi sama Mba Eka yg punya penginapan. Kata Mba Eka, kalau cuma di area Senggigi, penginapan Baleku menyediakan mobil antar-jemput. Duh! Istimewa ya? Happy Cafe, menurutku kafe yang nyaman dan menyenangkan. Makanannya enak, pilihan menu banyak, mulai dari Indonesian food, western sampai sushi. Minuman juga beragam, mulai dari jus, susu, air putuh sampai cocktail juga ada. Kami paling betah dengan live music nya. Bagus banget! Ohya, jam 9 kafe mulai penuh bahkan sampai waiting list loh! Untuk harga, menurutku sudah sesuai dengan suasana dan rasa yang ditawarkan. Makan malam kami Rp 150 ribu berdua. Ohya, bisa request lagu juga loh,, buat yang dateng sama pasangan pasti romantis deh! :))

Happy Cafe, Senggigi, Lombok

Kembali dari Happy Cafe, kami mencari-cari info tentang penyebrangan ke Gili. Mba Eka memberi banyak penawaran menarik, namun karena konsep liburan kami adalah backpacker, akhirnya kami menerima tawaran diantar ke Bangsal (pelabuhan) saja esok pagi. Selanjutnya untuk paket snorkeling dan penginapan di Trawangan kami putuskan untuk cari sendiri saja. Mba Eka juga menawarkan paket travel di hari ketiga. Nanti akan aku ceritakan selanjutnya.

Minggu, 6 Mei, kami berkemas untuk menyeberang ke Trawangan melalui Pelabuhan Bangsal. Setelah sarapan, kami sempat main sebentar ke pantai Senggigi. Pagi hari, Senggigi ramai dengan orang lokal yang berolahraga. Ohya, pantai Senggigi ini ternyata biasa banget kalau dibandingkan dengan pantai-pantai lain yang akan kami temui.  Menurutku, Senggigi ini semacam pemanasan sebelum bertemu pantai-pantai yang bakal bikin shocked! :))

at Baleku, bersiap menuju Gili Trawangan
Kamar kami adalah yang di sebelah kiri kamu, yg temboknya coklat tua. Kami diantar naik mobil keren itu! Hihihi.. Ongkos antar ke Bangsal plus tiket kapal totalnya Rp 50.000,- untuk berdua. Ini murah banget loh, setelah kami tau informasi. Kalau naik angkutan pedesaan mungkin jauh lebih murah, tapi juga jauh lebih lama. Perjalanan menuju Bangsal ternyata cukup jauh, sekitar 1 jam dari Senggigi. Di perjalanan kami melewati Pura Batu Bolong dan Malimbu Cliff, yang katanya salah satu lokasi terbaik untuk menikmati Sunset Senggigi. Dari Malimbu Cliff ini, akan terlihat ketiga Gili dan juga Gunung Agung-nya Bali. Istimewa sekali sodara-sodara. :))

Sesampainya di daerah Bangsal, kamu akan temui pintu gerbang Bangsal, yang kalau kamu naik taksi, kamu harus berhenti di gerbang itu dan lanjut ke pelabuhan naik Cidomo atau delman. Beruntung sekali, kami bisa diantar langsung ke pelabuhan dengan mobil Baleku. Mengantongi tiket kapal seharga masing-masing Rp 10.000,- menuju Trawangan, kami berpisah dengan Mba Eka, akhirnya memutuskan untuk pakai paket tour Mba Eka di hari ketiga.

Tidak lama menunggu, kami langsung naik kapal. Jangan kaget, karena kalau tiket harga Rp 10.000,- ini, kamu akan naik kapal digabung dengan masyarakat sana. Akan beda harga dan suasana kalau kamu ikut paket shuttle yang harganya sekitar Rp 30.000,- per orang. Kapal sama, kecepatan sama, bedanya cuma penumpangnya aja kok. :))

Suasana Kapal menuju Trawangan
 Sekitar 45 menit dan yayyy!! Akhirnya kami tiba di Gili Trawangan. Sepanjang jalan di kapal, kami disuguhi suasana birunya laut. Air tenang, cuaca cerah dan matahari sudah mulai hangat. Begitu kapal berlabuh, kaki kami langsung menginjak pasir yang putih dan menikmati air yang jernih, kami bisa melihat rumput laut dan terumbu karang dari atas kapal. Cantik!!!
Tiba di Trawangan! Yayyy!
Mencari penginapan di Trawangan sepertinya tidak susah karena banyak marketing penginapan yang teriak-teriak menawarkan kamar apalagi jika melihat kita membawa ransel. Ga masalah kalau kamu dapat penginapan atau homestay agak masuk ke perkampungan, karena harganya jauh lebih miring dan kamarnya lebih bagus. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Homestay Sunrise Lumbung. Harga kamar Rp 200 ribu include sarapan, ga ada AC sih tapi udah cukup nyaman kok. Kamar luas, tivi, kamar mandi dalam plus bathtub. Marketingnya bernama Mas Aldi, dia langsung menawarkan sewa sepeda Rp 40.000,- sehari . Kami sewa 2 sepeda, polygon, berkeranjang, nice!


Kamar 200 ribu kami
Kami baru menyadari suasana begitu romantis waktu hari mulai sore. Syit! bikin geli kalo mengingat kami sesama wanita, ini room pas banget buat yang berpasang-pasangan. Dari Mas Aldi kami mencari info tentang fasilitas snorkeling ketiga Gili. Dia nawarin sewa boat, alat, dan pemandu untuk kami berdua, private dengan harga Rp 600 ribu. Katanya kami sudah agak kesiangan karena sudah jam setengah 11 dan jadwal snorkeling itu jam 10 pagi. Agak panik, aku hampir mengiyakan harga segitu. Duh! Untungnya Een agak keras, dia mengajakku keliling pantai sambil mencari makan siang. Ternyata, kami nemu jasa snorkeling dengan harga Rp 100 ribu per orang include sewa alat dan glass bottom boat, ituloh kapal yang dasarnya dari kaca jadi sepanjang perjalanan kamu bisa sambil menikmati pemandangan bawah laut. Keren! Lokasinya dekat dengan pelabuhan menuju Gili Meno, aku lupa nama jasa itu. Kami menunggu sebentar dan sempat berfoto disitu. Pantainya jempol!!

Suasana Pelabuhan Snorkeling

Kapal kami berisi beragam orang. Kebanyakan adalah turis mancanegara. Tua muda, laki perempuan, semuanya bergabung ingin menikmati keindahan pulau surga ini. Waktu sudah semakin siang, matahari sudah terik dan kami tidak jadi makan siang. Sepeda kami titip di jasa snorkeling, kami juga tidak membawa persiapan pakaian, hanya membawa tas, dompet, dan kamera. Snorkeling dimulai di Gili Trawangan, mungkin sekitar setengah jam. Semacam pemanasan, kami bisa melihat terumbu karang dan beberapa ikan laiut yang cantik-cantik. Aku sendiri ga bisa berenang, jadi harus pakai pelampung dan menarik-narik baju Een. Hehehe.. Lokasi kedua adalah Gili Meno. Di sini, menurutku pemandangan bawah laut lebih cantik. Ikan-ikannya lebih banyak, lebhih berwarna, bahkan ada yg lewat bergerombol. Beberapa anggota lain melihat penyu! Sialnya kamera bawah air Een ga berfungsi. Lalu perhentian terakhir ke Gili Air. Di sini, pemandangan bawah lautnya hampir sama seperti di Trawangan. Tetap cantik, tapi tak secantik yang di Meno. Wuhuuuu! akhirnya kami naik lagi ke kapal dan berlabuh di Gili Air. Kami diberi waktu untuk makan siang. Gili Air itu cantiknya maksimal! Tidak seramai Trawangan dan juga pulaunya kecil, sudah ada beberapa penginapan, pas banget buat yg bulan madu yg pengen dapat suasanan tenang dan romantis.

After Snorkeling

Setelah menikmati makan siang di Gili Air, kami kembali ke Trawangan. Eh, makan kami berdua Rp 40.000,- loh. BAlik ke Trawangan, kami sempat berfoto lagi. Menikmati jernihnya Trawangan.

Een dan Trawangan
Setelah puas berfoto, kami kembali ke penginapan. Mandi dan bersih-bersih. Kulit terbakar, badan lengket, rambut kasar dan iihhh mengerikan! Jam 5 sore, kami bersiap untuk mengejar sunset yang katanya bagus. Ada lokasi terbaik menikmati sunset, disebut sunset point. Jaraknya cukup jauh dari penginapan kami. Kami sudah mengeluarkan sepeda waktu mas Yoga, penjaga homestay memanggil kami, menawarkan kami untuk menikmati sunset dari bukit. Heh?? Antara percaya ga percaya, kami ikuti juga si mas Yoga itu. Sepeda disimpan lagi dan kami memang ga punya gambaran sama sekali tentang bukit yg dimaksud. Akhirnya, kami tahu kami saltum, dan di bukit itu, luar biasa! kita bisa melihat jejeran pulau Gili lalu menikmati laut biru yang tenang. Sempet takut juga, karena jalan di bukit cuma jalan setapak, sepi dan banyak semak berduri. Tapi ya berdoa aja sihh..

Trawangan-Meno-Air

Lanskap cantik dari atas bukit
Akhirnya kami menuruni bukit dan tiba di area sunset point. Perjalanan sekitar setengah jam dan disana sudah banyak orang-orang menunggu sunset. Ada beberapa cafe juga yang menyediakan kursi dan minuman agar menikmati sunset bisa lebih rileks. Kebanyakan sih turis-turis mancanegara. Sekitar jam 6, matahari mulai turun, tidak mendung tapi agak tertutp awan sehingga sunset kurang maksimal. Walaupun begitu, kami cukup puas. Cukup puas karena dimana-mana banyak pasangan yg bermesraan gitu, bikin nyesek! Sumpah!

Masih agak terik

Sunset at Trawangan
Malamnya karena kelelahan, kami memutuskan untuk istirahat di kamar saja. Sebenarnya malam itu pas banget lagi ada Fullmoon party, tapi emang dasarnya kami tidak suka party semacam itu, kami akhirnya istirahat di kamar saja unutk mempersiapkan diri esok hari. Di Trawanngan, ada lokasi resto mewah dan mahal yang menyediakan menu mewah mulai dari ikan-ikan segar sampai lobster. ada juga area yg sederhana yg menyediakan menu makanan ikan laut dan makanan sederhana lainnya seperti sate. Kami makan sate saja malam itu.

Esok paginya setelah mandi kami langsung packing. Kami memutuskan untuk keliling ke bagian pantai yang belum sempat kami kunjungi sambil berburu sunrise. Udara masih sejuk dan pantai masih sepi, mungkin sisa pesta semalam atau memnag pagi bukan bagian dari rencana liburan orang-orang. Tapi ternyata sunrise di Trawangan tak kalah indah dengan sunset-nya.
Sunrise at Gili Trawangan

Pagi menyapa Trawangan

Setelah sarapan dan check out, kami langsung menuju pelabuhan untuk menyebrang kembali ke Lombok. Kami sudah janjian dengan Mba Eka, yang akan menyediakan mobil dan mengantar kami ke beberapa lokasi wisata lain di Lombok. Biaya sewa mobil Rp 425 ribu dibagi berdua, kalau lebih banyak pasti urunannya lebih murah. Sialnya kapal baru berangkat setelah penumpang penuh. Kami menunggu hampir sejam dan kami kesiangan dari jadwal yg dijanjikan. Kami kehilangan kesempatan mengujungi Lingsar yang katanya adalah lokasi ibadah muslim dan Hindu.

Tiba di Bangsal, kami dijemput oleh supir Mba Eka. Langsung melaju menuju Narmada, taman nasional. Kami jalan tidak melewati jalan berangkat yang ada Malimbu Cliff-nya tapi dari jalan lain yang melewati perbukitan hijau dan monyet-monyet. Lumayan jauh karena beda kabupaten. Di Narmada ini, ternyata adalah replika gunung Rinjani yang dibangung oleh Raja Gde Agung, yang asli Bali. Biasa aja sihh, ada air awet mudanya juga tapi kita ga masuk.

Taman Nasional Narmada
Selanjutnya kami makan siang di Mataram dengan menu Plecing kangkung dan Ayam Taliwang. Kangkungnya gendut-gendut dan ayamnya enak. Kami lalu mampir membeli oleh-oleh, harganya lumayan bikin sedih lohh. Setelah itu kami lanjut ke Tanjung Aan yang di bulan Februari akan banyak cacing Nyale. Tanjung Aan ini indah sekali, pasirnya putih bersih bikin hati adem walaupun matahari lagi terik-teriknya. Dari Tanjung Aan, kami lanjut ke Pantai Kuta, Lombok. Ini nih pantai yang bikin kita speechless. Jaraknya ga jauh dari Tanjung Aan, masih satu garis tapi suasanan yang dihadirkan beda. Di Kuta, Lombok ini air biru gradasi dan pasirnya coklat berbulir hampir segede merica. Kami speechless dan hanya bisa tertawa-tawa mengagumi keindahan ciptaan Tuhan.

Tanjung Aan
Narsis dikit dong yaa
Kuta, Lombok
Een dan Kuta, Lombok
Selesai dari pantai-pantai cakep itu, kami menuju Desa Sasak. Desa tradisional yg penghuninya masih sedikit yg bisa berbahasa Indonesia. Jaraknya ga jauh dari Kuta, sekitar 15 menit mungkin. Di desa Sasak ini kami bisa melihat rumah adat asli suku Sasak. Lantainya terbuat dari campuran semen, tanah dan kotoran sapi. Kebetulan waktu kami kesana ada yg sedang mengepel lantai dengan kotoran sapi, jijik, bau, tapi itu tradisi yg harus kita hargai kan ya? Terlihat juga beberapa orang sedang menenun kain tradisional dan sebagian dijual untuk wisatawan. Kalau saran dari aku sih, kalau mau beli jangan disitu sih, harganya jauh lebih mahal.

Desa Sade
Kotoran sapi di lantai
Selesai dari Desa Sade, kami langsung menuju bandara, mengantar Een untuk flight jam 17.30 WITA. Selanjutnya aku diantar ke Mataram untuk mencari penginapan. Hari keempat, aku berkeliling kota Mataram dan sekitarnya untuk membeli titipan mutiara teman kantor, beli buatku juga sih. Kalau mau yg murah, ke Pagutan aja, Kalau mau kualitas dan jaminan barang, datang aja ke showroom mutiara, kalau di showroom, mutiara yg kamu beli terjamin kualitas dengan adanya sertifikat tapi tentunya harga jauh lebuh mahal. Selain itu, yang bikin kaget adalah harga oleh-oleh berupa kaos dan kain tradisional yang harganya hanya setengah dari harga di pusat oleh-oleh. Jadi saranku, kalau mau beli oleh-oleh, di Mataram aja, di samping Matarm Mall, barang sama, harga miring loh.

Kurang lebih begitu itu pengalaman liburan di Lombok bareng Een. Mahal atau murahnya liburan itu tergantung si penikmat liburan kok. Kalau mau lebih murah bisa, yang jauh lebih mahal juga ada. Ihya, saran nih, timing pas liburan emang sepertinya di bulan Mei. Cuaca cerah, ombak tidak terlalu tinggi dan pengunjung tidak terlalu ramai.

Daaannnn,, apa yang ada di foto, tidak seberapa daripada yang kami lihat langsung. Foto-foto ini belum di-edit dan diambil ala kadarnya sesuai kemampuan fotografiku yg pas-pasan. Paradise Island, begitu mereka menyebut Lombok. Sepakat banget! Indonesia itu sungguh kaya... Jadi ngapain jauh-jauh ke luar negeri? Ayo jelajahi dan cintai alam Indonesia kita!!

Next trip: Malang dan sekitarnya. Wanna join me? :))